Cerpen sahabat

Sahabat



"Aku bisa duduk bersamamu di sini selamanya, aku tidak perlu menyentuhmu, aku tidak perlu mendengar suaramu, aku bahkan tidak perlu melihatmu, selama aku yakin bahwa kau bersamaku di sini."

Aku tersenyum ketika membaca tulisan yang diukir di batu dengan fotoku dan Richa duduk bersama dan 'Sabahat Selamanya' tertulis dalam huruf cetak.

"Dia memang selalu dramatis," aku berucap.
Senyuman riang di wajah kami cukup untuk membangkitkan setumpuk kenangan yang sudah kami lalui. Aku mengeluarkan bingkai foto yang berdebu, membersihkannya dan menaruhnya kembali di atas meja di sebelah tempat tidur. Aku akhirnya mengeluarkan tas yang terakhir. Aku sudah siap untuk pergi. "Ini akan jadi sangat sulit," pikirku. Sebuah pikiran yang mengerikan tiba-tiba terlintas. 

Kupu-kupu berterbangan di perutku. Ku lihat foto itu sekali lagi, "Apakah kamu tahu betapa aku membutuhkanmu saat ini? Aku merindukanmu, bodoh! Sangat merindukanmu!" Aku melihat ke dalam matanya. Senyumannya yang riang dengan gigi yang rapi serta lesung pipi yang manis membuatku terbawa suasana sekali lagi. Aku menyeka air mata yang mengalir.

"Kamu harus membayar karena tidak datang! Kamu tidak akan lolos karena melakukan ini kepadaku." Aku memusatkan pandanganku kepadanya. Dia tetap cuek, tersenyum seperti biasanya. Aku menggeram, meninggalkan ruangan.

Kesunyian yang tidak biasa terasa hari ini. Aku berjalan menuju takdirku. Apakah ini kepuasan yang luar biasa yang sudah lama kudambakan ataukah hanya pikiranku yang sentimental?

Aku kembali dan menyisir kamarku sekali lagi. Semuanya tidak tersentuh, begitu nyata namun asing, dekat namun jauh. Rasa nyaman begitu terasa. Duniaku yang kecil ini akan berubah esok hari. Aku menutup mata dalam kepuasan, "Ya, ini dia." aku bergumam, lalu pergi...

Komentar