Cerpen sahabat
Sahabat "Aku bisa duduk bersamamu di sini selamanya, aku tidak perlu menyentuhmu, aku tidak perlu mendengar suaramu, aku bahkan tidak perlu melihatmu, selama aku yakin bahwa kau bersamaku di sini." Aku tersenyum ketika membaca tulisan yang diukir di batu dengan fotoku dan Richa duduk bersama dan 'Sabahat Selamanya' tertulis dalam huruf cetak. "Dia memang selalu dramatis," aku berucap. Senyuman riang di wajah kami cukup untuk membangkitkan setumpuk kenangan yang sudah kami lalui. Aku mengeluarkan bingkai foto yang berdebu, membersihkannya dan menaruhnya kembali di atas meja di sebelah tempat tidur. Aku akhirnya mengeluarkan tas yang terakhir. Aku sudah siap untuk pergi. "Ini akan jadi sangat sulit," pikirku. Sebuah pikiran yang mengerikan tiba-tiba terlintas. Kupu-kupu berterbangan di perutku. Ku lihat foto itu sekali lagi, "Apakah kamu tahu betapa aku membutuhkanmu saat ini? Aku merindukanmu, bodoh! Sangat merindukanmu!...